SEBUAH RAHASIA

Oleh : Erbi Ananta

Oleh :
Erbi Ananta

Siang itu, saat Ibu menatapku dari ambang pintu kamar, aku sedang berkemas-kemas, kulirik wanita setengah baya yang telah melahirkanku dua puluh empat tahun yang lalu itu seraya tersenyum,  dan beliau pun tersenyum kepadaku.

“Jadi kapan kau akan datang lagi untuk menemui Ibu?” Tanyanya kemudian sambil berjalan ke arahku, lalu duduk di dekatku, di tepi ranjang.

Aku meliriknya seraya mengernyitkan dahi. “Kenapa Ibu bertanya seperti itu? Bukankah selama ini hampir setiap seminggu sekali aku selalu pulang menemui Ibu?”

“Kau kan tahu Ibu sudah semakin tua sekarang, jadi Ibu akan sangat membutuhkan kehadiran kamu di sini.”

“Iya Bu, Ibu berdo’a saja, mudah-mudahan secepatnya aku dipindahtugaskan di sini. Kalau menurut kabar burung sih kira-kira tiga bulanan lagi, mudah-mudahan tidak meleset ya, Bu… Lagipula Ibu tidak tinggal sendirian kan di rumah ini, ada Bi Surti yang akan selalu menemani Ibu.” Ujarku sambil mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Dari samping, kutatap wajah Ibuku dengan lekat, sebenarnya ada rasa tak tega juga membiarkannya tinggal berdua saja dengan Bi Surti, apalagi jika melihat kondisinya yang semakin hari semakin sering sakit-sakitan, tapi mau bagaimana lagi, aku pergi bukan untuk meninggalkannya, tapi untuk bekerja, untuk bekal hidup kami berdua.

Ibu melirikku, wajahnya terlihat agak pucat, mungkin karena sedang sakit.

“Bu… Ibu beneran cuma lagi nggak enak badan saja?”

Ibuku mengangguk, kemudian berkata,”kau kan tahu sendiri, Ibu memang sering seperti ini, tapi kalau sudah minum obat dan istirahat agak lama di dalam kamar nanti juga sembuh lagi kok.” Ujarnya sambil menatapku, dari gerak mulutnya sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi setelah beberapa detik menunggu, ternyata dia malah tersenyum. “Kau tenang saja, Ibu akan baik-baik saja, yang penting kau harus tetap sering pulang untuk menengok Ibu, soalnya Ibu suka kangen sama kamu.”

“Iya Bu, Pasti, aku pasti akan selalu pulang untuk menemui Ibu. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekarang  ya Bu, Ibu tetap jaga pola makan ya…”

Ibu mengangguk, dan setelah itu  tak ada lagi pembicaraan antara aku dengan Ibuku, setelah mencium tangan dan kedua pipinya maka aku pun segera berangkat, kereta yang akan aku tumpangi dengan tujuan Cirebon-Jakarta akan segera berangkat dalam waktu lima belas lagi.

***

Kereta melaju,  aku duduk dengan tenang, sambil diam aku teringat lagi pada wajah Ibuku, dan seperti biasa aku selalu tersenyum kala mengingat wajah itu, pada usianya yang sudah di atas lima puluh tahun beliau masih terlihat cantik, dari ujung kepala hingga ujung kaki, di mataku Ibuku adalah wanita yang sangat sempurna, dan aku menyukai apapun yang ada pada dirinya, termasuk tutur katanya yang selalu lemah lembut saat dengan siapapun ia berbicara, tidak seperti Ayahku yang galak dan sukanya marah-marah terus, sepanjang hidupnya Ayah selalu saja menyakiti hati Ibu, bahkan hingga ajal menjemputnya tiga tahun yang lalu gara-gara terkena serangan jantung, sebuah penyakit kronis yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.

Tak terasa kereta yang kutumpangi akhirnya sampai di statsiun kota, kemudian dengan sebuah taxi aku melanjutkan perjalananku menuju ke rumah kontrakanku, tidak seberapa jauh dari stasiun itu. Dan seperti biasa, Dini, asisten pribadiku yang sudah dua tahun menemaniku itu menyambutku, dia membukakan pintu pagar untukku, selanjutnya dia juga mengambil segelas air minum dan menyerahkannya kepadaku.

Seperti biasa, jam 20:30 aku sudah masuk ke dalam kamar, aku harus segera pergi tidur, karena besok pagi aku harus kembali bekerja. Kurebahkan tubuhku di atas kasur, lalu kupejamkan kedua mataku, niatku adalah untuk segera tidur, namun entah kenapa selama terpejam itu aku justru mulai teringat terus kepada Ibuku, aku merasa begitu merindukannya seolah-olah sudah lama sekali tidak bertemu, bayang-bayang wajahnya seakan tak mau pergi dari pelupuk mataku.

Karena tidak bisa tidur juga akhirnya kuputuskan untuk bangun saja, aku duduk di tepi ranjang, aku mencoba untuk tenang, tapi semakin aku berusaha untuk tenang, semakin aku tidak bisa menahan perasaanku, yang ada aku semakin gelisah saja, bahkan lebih dari itu, aku merasa seolah-olah sosok Ibuku ada di dalam kamarku, terus berdiri menatapku. ‘Ya Tuhan… Apa arti semua ini? Apakah ini merupakan sebuah firasat, mengingat kondisinya yang kurang baik saat ini?’ Bisikku dalam hati, dan akhirnya kuputuskan untuk menelpon rumah, Bi Surti yang menerima teleponku, dan saat aku tanya soal Ibu, dia mengatakan bahwa kondisi Ibuku sudah agak lebih baik, bahkan beliau sedang tidur lelap di kamarnya. Setelah mendengar langsung soal kondisi Ibuku dari Bi Surti, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.

Jam 05:30 alarm di kamarku berbunyi. Aku segera bangun, karena aku harus segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Dan seperti biasa, sebelum berangkat kerja aku selalu sarapan dulu, tentunya dengan menu yang sudah disiapkan oleh Dini. Setelah selesai sarapan aku pergi ke dapur, kuletakan piring kotor bekas makanku itu di kitcen zink.  Tiba-tiba telpon rumah berdering, aku meminta Dini untuk segera mengangkatnya, dan saat mendengar ucapan dari seberang telpon wajah Dini langsung berubah murung, kulihat dia juga terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Telpon dari siapa, Din?” Tanyaku dengan penasaran.

Dini melihat ke arahku. “Ibumu, mbak…”

Perasaanku langsung tidak enak.  ”Ibu kenapa?”

“Saya mendapat kabar dari Cirebon bahwa Ibu baru saja meninggal dunia.”

 Saat mendengar kata-kata itu, maka saat itu juga aku langsung merasa seakan-akan bumi tempatku berpijak mendadak bergoyang hebat, membuatku limbung dan tak mampu untuk berdiri tegak. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa kugerakan tubuhku untuk bisa berjalan ke kursi, aku duduk terkulai di kursi itu.

“Ibu…” Gumamku lirih seraya mengusap wajah dengan telapak tanganku yang mendadak berubah suhu menjadi begitu dingin. Sekilas aku melirik Dini yang masih berdiri terpaku di depanku, dengan tatapannya yang tak lepas dariku, mungkin dia tidak mau mengambil resiko, andai tiba-tiba saja aku pingsan maka dia bisa dengan cepat menangkap tubuhku, dari ekspresi wajahnya bisa kupastikan bahwa dia juga tak kalah terkejutnya denganku saat mendengar kabar buruk itu, dua tahun menjadi asisten pribadiku dan bahkan selama itu pula dia sering ikut denganku ke Cirebon, lama-lama membuatnya akrab dengan Ibuku, bahkan sikapnya kepada Ibuku sudah seperti kepada Ibunya sendiri.

“Saya ambilkan minum ya, Mba.”

Aku mengangguk. Kemudian Dini pun segera pergi ke dapur, dan tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa segelas air putih untukku. Aku buru-buru meminumnya, bahkan hingga tandas, lalu kuletakan gelas itu di atas meja.

“Din, tolong pesankan tiket kereta untukku, cari kereta yang akan berangkat sekarang juga. ” Ujarku sambil menangis.

“Boleh aku ikut, Mba?”

Aku mengangguk. Dan saat itu juga Dini langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil handphonenya, dia hendak memesan tiket secara online untuk keberangkatan kami berdua ke Cirebon, sedangkan aku sendiri langsung menelpon kantor, meminta ijin untuk tidak berangkat kerja. Selanjutnya kami pun berangkat ke stasiun kota.

***

Kereta melaju dengan cepat, tapi buatku terasa lama sekali sampainya, seperti itulah yang aku rasakan ketika itu. Di sepanjang perjalanan aku tak henti menangis, begitu juga dengan Dini, sesekali kulihat air matanya berderai. Meski mungkin tidak sesedih aku, tapi setidaknya dia juga pasti sedang merasakan rasa kehilangan yang sama sepertiku.

Sekitar kurang lebih tiga jam kemudian kereta yang kutumpangi telah sampai di stasiun Kejaksan, Cirebon, selanjutnya dengan menumpangi sebuah becak kami segera menuju ke rumah Ibu, aku lihat di rumah itu sudah banyak sekali orang yang datang melayat. Aku dan Dini buru-buru turun dari becak, dan tanpa ingat mengucapkan salam aku pun segera masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah aku melihat mayat Ibuku sudah terbaring kaku, sehelai kain batik panjang menutupi seluruh tubuhnya. Hampir semua keluarga dan kerabat yang datang larut dalam tangisnya masing-masing, beberapa dari mereka ada juga yang sedang mengaji, membacakan surat yasin untuk mengiringi kepergian Ibuku. Saat melihatku datang semuanya minggir memberiku jalan untuk bisa menemui Ibuku. 

“Ibu…..!” Teriakku sambil menjatuhkan diri di samping tubuh Ibuku, kemudian dengan tangan yang gemetar kusibakan kain yang menutupi seluruh wajahnya itu, aku menangis sejadi-jadinya, hingga tiba saatnya seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh cepat, ternyata Bi Surti, dia memberikan sepucuk surat bersampul amplop putih kepadaku, katanya itu adalah surat dari Ibu.

“Tadi pagi setelah selesai sholat shubuh Ibu menitipkan surat itu kepada Bibi, dan beliau meminta Bibi agar menyerahkan surat ini kepada Non pada waktu yang tepat. Yang bahkan Bibi sendiri tidak mengerti apa maksud dari ucapannya itu.” Kulihat kedua mata Bi Surti tergenang.” Ternyata inilah yang dimaksud oleh Ibu.” Ujarnya lagi sambil menangis.

Dengan hati yang diliputi pertanyan aku pun segera membuka dan membaca surat itu, surat yang menceritakan sebuah rahasia besar yang Ibu simpan selama ini.

“Meisya Anakku…  Maafkan Ibu karena selama ini tidak pernah menceritakan kondisi Ibu yang sebenarnya kepadamu, Ibu hanya tidak ingin nantinya kau sedih dan terus menerus memikirkan kondiri Ibu. Sejujurnya dari sejak tiga tahun yang lalu Ibu sudah positif mengidap virus hiv aids, ditularkan oleh Ayahmu. Tapi Ibu minta kau jangan membenci Ayahmu, dan tetaplah kau kenang dia sebaik kau mengenang Ibu, lagi pula sekarang Ibu sudah merasa senang karena pada akhirnya Ibu bisa mengakhiri penderitaan ini.

Meisya anakku… Maukah kau berjanji pada Ibu untuk tetap menyimpan rahasia ini sampai kapan pun, Ibu tidak ingin ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, karena Ibu pasti malu. Selamat tinggal, nak… Semoga kelak kau memiliki suami yang begitu mencintaimu, dan selamanya hidupmu selalu dilimpahi kasih sayangnya.”

Sambil menangis kugenggam erat surat itu, terbayang semua penderitaan Ibuku selama hidup bersama Ayahku. Saat Ayah masih hidup Ayah selalu menyakiti hati Ibu dengan semua kelakuan bejatnya itu, bahkan setelah mati pun ternyata Ayah masih saja menyisakan penderitaan untuk Ibuku dengan cara menularkan penyakitnya itu. ‘Jahat sekali kau, Ayah…!’ Aku menangis tersedu.

Beberapa pasang mata menatapku, diam-diam kumasukan surat itu ke dalam saku celanaku, harus kupastikan bahwa tak akan ada seorang pun yang tahu tentang isi surat itu. (*)

Be the first to comment on "SEBUAH RAHASIA"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*