PUTERI

 

Oleh : Erbi Ananta

Oleh :
Erbi Ananta

PUKUL 05.30

Puteri keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, sejenak dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu seperti seorang maling yang takut ketahuan oleh pemilik rumah, dia pergi dengan tergesa-gesa  menuju ke kamarnya di ruang belakang.

Keesokan paginya, sekitar pukul 05:30, sang fajar saja belum menyingsing, bahkan suara orang pengajian dari mushola yang ada di dekat rumah pun masih terdengar, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, Puteri berusaha mengimbangi langkah Maya, Ibunya yang sedang menyeretnya keluar dari kamar. Dia sendiri masih belum sepenuhnya sadar, karena barusan ketika Maya menarik tubuhnya dari atas kasur dirinya masih tertidur pulas. Dan sesampainya di ruang tamu Maya menghempaskan tubuh Puteri di atas kursi dan langsung memperlihatkan sesuatu yang ada di tangannya.

Apa ini?! Teriak wanita itu seraya menghujamkan tatapannya ke wajah Puteri.

Puteri langsung melihat ke arah benda yang dipegang oleh Ibunya itu, dan seperti tersengat lebah, dia kaget bukan kepalang, wajahnya berubah pucat, dia menatap benda itu dengan shock, sedangkan batinnya menjerit, menyesali keteledorannya, mengapa benda itu tidak langsung dibuangnya saja sejak dari semalam, tepat setelah dia berhasil melakukan tes kehamilannya itu, bukannya malah dibawa ke kamar dan terus menangis tiada henti, bahkan hingga lelah dan akhirnya ketiduran.

Siapa yang telah melakukannya?” Tanya Maya lagi, suaranya semakin meninggi, Puteri mulai menggigil di tempat duduknya, kedua matanya pun berkaca-kaca.

Melihat Puteri yang bahkan tidak bergeming sedikitpun tiba-tiba saja Maya menyondongkan tubuhnya ke arah Puteri, lalu menarik rambut Puteri dengan kasar.

“Percuma kamu bersikap baik selama ini di depan Ibu, tapi tau-tau hamil, dasar munafik!

Mendengar ucapan Ibunya itu hati Puteri benar-benar nelangsa. Sebenarnya ingin sekali dia menceritakan semua kejadian itu kepada Ibunya, bahkan sebelum dirinya terlanjur hamil, tapi dia tidak berani, karena jika sampai semuanya terbongkar maka tanpa ampun lagi laki-laki itu akan langsung membunuhnya.

Maafkan Puteri Bu… Puteri tidak bisa mengatakan siapa orangnya, kepada Ibu. Memangnya kenapa kamu tidak bisa mengatakannya? Kalau Ibu tahu, Ibu bisa saja langsung menikahkan kamu dengan laki-laki itu!”

Mendengar kata nikah Puteri langsung bergidik seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena itu adalah hal yang paling tidak mungkin untuk dilakukan, bahkan andai tidak ditemukan juga solusinya, dia lebih memilih mati dari pada harus menikah dengan laki-laki itu. Puteri menangis tersedu sambil terus menundukan wajahnya, hingga tiba-tiba Maya memegang dagunya dan mengangkatnya dengan kasar.

“Sekarang tatap mata Ibu, dan cobalah untuk berani menjawab pertanyaan Ibu!”

Puteri mencoba memberanikan diri menatap wajah Ibunya yang berada tepat di depan wajahnya, namun dia merasa tak mampu melihat kedua mata bulat Ibunya yang tampak seperti ingin keluar dari kelopaknya itu, karena itu perlahan dia menarik wajahnya dari tangan Ibunya, dan di luar dugaan Ibunya gadis manis itu tiba-tiba saja bangkit dari kursi, lalu sedikit demi sedikit mundur dari hadapan Ibunya, baru setelah beberapa langkah agak jauh dari hadapan Ibunya barulah gadis itu membalikan tubuhnya dan segera pergi,  kontan saja hal itu membuat Ibunya  membelalakan matanya.

”Heh, mau kemana kamu……?!

Puteri semakin mempercepat langkahnya menuju ke kamarnya di belakang, bahkan dia juga langsung mengunci pintu agar Ibunya tidak bisa masuk untuk terus memaksanya berbicara.

Cepat kembali ke sini, Puteri! Sambil terus berteriak-teriak, Maya berjalan ke kamar Puteri, wajahnya merah padam karena menahan luapan emosi yang begitu besar. Bahkan semakin marah lagi saat tahu bahwa pintu kamar Puteri dikunci dari dalam.

“Cepat Buka pintunya, Puteri! Jika tidak, Ibu akan mendobrak pintu ini dan memukuli kamu! Maya coba mengancam Puteri agar dia mau membuka pintu. Namun yang terjadi justru sebaliknya, saat mendengar kata-kata Ibunya itu Puteri langsung panik, jantungnya berdegup kencang, kedua matanya langsung beringas mencari tempat yang bisa untuk dijadikan tempat bersembunyi, hingga akhirnya dia melihat ke kolong ranjang, dan tanpa berpikir panjang lagi dia segera bersembunyi di kolong itu, dia takut bagaimana jika Ibunya kesetanan dan benar-benar melakukan apa yang baru saja diucapkannya itu, meskipun dia sendiri tahu bahwa jika ia bersembunyi di kolong ranjang, Ibunya tetap akan menemukannya, tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang, dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Di sudut kolong Puteri menangis kebingungan, hingga tiba saatnya Ibunya berkata lagi.

“Putri, Walau pun Ibumu ini seorang pelacur, tapi tak seharusnya kau mengikuti jejak langkah Ibu yang kotor ini.”

Puteri langsung terhenyak saat mendengar ucapan Ibunya itu, dia langsung menatap tajam ke arah datangnya suara itu. Asal kamu tahu, Puteri, kamu adalah satu-satunya alasan untuk Ibu bisa bertahan hidup, selama ini Ibu bekerja keras dan rela menjadi seorang pelacur hanya demi bisa mendapatkan uang yang banyak, semuanya demi kamu, agar kamu bisa hidup layak dan bisa tetap sekolah di sekolah yang berkualitas, Ibu ingin kelak kau menjadi seorang wanita terhormat dan mahal, tidak murah dan hina seperi Ibumu ini.”

Puteri menggeleng-gelengkan kepalanya, terlalu sakit baginya mendengar kenyataan itu. Selanjutnya, dengan tubuh lemas puteri merangkak keluar dari kolong ranjang itu dan duduk bersandar ke kaki ranjang, kemudian sambil terus memeluk kedua kakakinya, Puteri menangis tersedu, hatinya benar-benar nelangsa.  Sedangkan Maya, karena pintu tidak kunjung dibuka, beberapa saat kemudian dia memutuskan untuk pergi saja ke kamarnya, dia pun menangis sejadi-jadinya, harapannya tentang sebuah masa depan yang gemilang bagi puteri semata wayangnya itu kini pupuslah sudah.

Jam sudah menunjukan pukul 20:30 malam. Putri terbaring malas di atas ranjang tidurnya, sesekali air matanya mengalir dari kedua pipinya yang berlesung pipit itu, hatinya benar-benar hancur, dia merasa sudah tidak punya harapan hidup lagi, bagaimana tidak, Maya adalah seorang Ibu yang selalu dipuja dan dibanggakannya di hadapan semua teman-temannya, karena selama lima belas tahun telah menjadi orang tua tunggal yang hebat, berjuang sendirian melewati kerasnya hidup, bekerja sebagai seorang penyanyi dangdut di sebuah kafe, meski harus menghadapi berbagai sindiran serta cibiran para tetangga, namun tetap bertahan dan membalas semua tuduhan yang dilemparkan kepadanya itu dengan sebuah senyuman manis seolah dirinya memang tak bersalah, tapi ternyata sekarang Ibunya malah membuktikan semua tuduhan itu. Ya, Ibunya tak lain adalah seorang pelacur, sekali lagi, ‘PELACUR’ Sedangkan dirinya, betapa tak berharganya dirinya saat ini, seorang gadis yang hamil tanpa seorang suami. Kini tak ada lagi yang tersisa pada dirinya.

Malam sudah larut, untuk kesekian kalinya Puteri terbangun dari tidurnya, mungkin karena masalah yang sedang menimpanya itu sehinga dia tidak bisa tidur dengan tenang, tatapannya yang hampa menatap langit-langit kamar yang berwarna putih, hingga tiba-tiba dia mendengar suara derak langkah kaki beralaskan sepatu pantopel yang berjalan di samping kamarnya, suara sepatu Ayah tirinya yang baru pulang bekerja sebagai seorang Satpam di sebuah Mall. Puteri langsung melihat ke arah jendela, dan saat itulah dia baru sadar kalau jendela kamarnya masih terbuka lebar, dia lupa menutupnya. Tanpa berpikir panjang lagi Puteri buru-buru turun dari ranjang, hendak menutup jendela itu, dia menjulurkan kedua tangannya melewati teralis, namun belum sempat tanggannya menyentuh ujung jendela, lelaki berperawakan besar itu telah berdiri tepat di depan jendela, sedangkan kedua tangan kekarnya memegang ujung jendela  tersebut.

Puteri langsung ketakutan, dengan kaki yang gemetar gadis itu buru-buru beringsut menjauh dari jendela, mundur ke arah ranjang, namun karena posisi jendela itu berada tepat di depan ranjang, sehingga lelaki itu bisa memandang dirinya dengan leluasa, memandangnya sambil tersenyum menyeringai. Puteri segera berlari ke sudut, namun sudut itu pun hanya berjarak setengah meter saja dari jendela, sehingga laki-laki itu bisa menggapai tubuhnya, dia menjulur-julurkan tangannya ke arah Puteri.

Ingat, Puteri. Jika sampai kamu berani membocorkan rahasia ini kepada Ibumu, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu. Bisik laki-laki itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari jendela kamar Puteri dan Berjalan ke teras.  Beberapa saat kemudian Puteri mendengar suara derit pintu ruang tamu yang terbuka perlahan, disambut oleh suara Ibunya yang menyambut kedatangan suaminya itu, dan saat itu juga langsung terdengar suara Ibunya menangis, mengadukan prihal kehamilan dirinya, hingga akhirnya mereka masuk ke dalam kamar.

Keesokan paginya, pukul 05:30. Maya baru saja membuka pintu depan, dia hendak menyapu teras, namun wanita itu langsung berteriak histeris, tampak olehnya mayat puterinya yang menggantung di dahan pohon nangka, di sebelah barat halaman rumahnya, dengan kedua mata yang melotot sera lidah yang menjulur keluar, sedangkan tepat di bawah tubuh yang mengantung itu terdapat sebuah kursi kayu dengan posisi terjungkir. (*)

Be the first to comment on "PUTERI"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*