OJK Catat Literasi Keuangan Syariah Belum Maksimal

Foto : CP-06
KEUANGAN SYARIAH FAIR. OJK bersama beberapa bank syariah, industri non bank syariah dan pasar modal syariah gelar Keuangan Syariah Fair 2017, Jumat (11/8).

KESAMBI – Survei Nasional Literasi dan Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016 menyebutkan, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih jauh dari maksimal yaitu 8,11% dengan tingkat inklusi mencapai 11,06%. Artinya, hanya 8 dari 100 orang yang memahami produk dan layanan keuangan syariah. Sementara, hanya 11 dari 100 orang yang memiliki akses terhadap produk dan layanan lembaga jasa keuangan syariah.

Direktur Pasar Modal Syariah OJK Pusat, Fadilah Kartikasasi menyebutkan, sebagai negara dengan dominasi muslim, perkembangan keuangan syariah Indonesia masih kalah dari Malaysia. Padahal, dibanding keuangan konvensional, keuangan syariah dinilai lebih berkah.

“Sebenarnya keuangan syariah sama lengkap dan bagusnya dengan keuangan konvensional. Salah satu perbedaannya ada pada prinsip yang diterapkan,” katanya seusai acara Keuangan Syariah Fair 2017 di salah satu mall di Jalan Cipto, Jumat (11/8).

Fatimah menjelaskan, keuangan syariah menerapkan bagi hasil bagi nasabahnya sebagai cara transaksi atau akad. Lain halnya dengan keuangan konvensional yang menawarkan bunga. Meski keuntungan antara keuangan syariah dan konvensional bersifat relatif, dia mengatakan, nyatanya saham investasi syariah lebih tinggi ketimbang IHSG. Sayangnya, sejauh ini masyarakat Indonesia masih belum melek keuangan syariah.

Menurutnya, keuangan syariah memberi masyarakat lebih banyak pilihan. Hanya, dia mengakui, dibutuhkan sosialisasi dan edukasi terus menerus kepada publik mengenai produk serta jasa layanan keuangan syariah yang semakin beragam dan bermanfaat besar bagi masyarakat.

“Memang tak mudah beradaptasi dengan hal baru, mengingat awal perkembangan keuangan syariah pada 1992, lebih baru dibanding keuangan konvensional,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala OJK Cirebon, Muhamad Lutfi mengatakan, peranan keuangan syariah dalam berbagai sektor ekonomi terus meningkat, di antaranya melalui pendanaan APBN, proyek-proyek swasta, dan UMKM. Melengkapi hal tersebut, keuangan syariah juga telah hadir menjadi sarana bagi perencanaan keuangan, investasi, dan perlindungan risiko keuangan bagi masyarakat Indonesia.

“Di Wilayah Cirebon yang meliputi lima daerah, peserta keuangan syariah masih minim akibat sosialisasi yang kurang,” ungkapnya.

Kota Cirebon terpilih sebagai salah satu kota pelaksanaan Keuangan Syariah Fair 2017 karena potensi pasar yang terbuka lebar bagi berkembangnya industri keuangan syariah. Selain itu, Kota Cirebon dinilai strategis karena terletak dijalur pantura, di mana pembangunan ekonomi kreatif dan UMKM berkembang pesat, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu Kawasan Emas Jawa Barat.

“Kota Cirebon memiliki kekuatan aspek heritage dan masyarakat yang dinamis. Ditambah, kumpulan aneka ragam karya seni, budaya, wisata, kuliner, dan lainnya, yang secara ekonomis marketable dan membuat perputaran ekonomi di kota Cirebon tak pernah berhenti,” tambahnya.

Kegiatan itu sendiri diikuti sekitar 30 industri keuangan syariah, yang terdiri atas sepuluh industri perbankan syariah, 14 industri keuangan non bank syariah, dan enam industri pasar modal syariah, dengan koordinator dari industri perbankan syariah yakni CIMB Niaga Syariah dan BJB Syariah. (CP-06)

Be the first to comment on "OJK Catat Literasi Keuangan Syariah Belum Maksimal"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*